Selasa, 05 Maret 2013


PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
Oleh Ratnasari (1105339) Pendidikan Kimia B
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa disekolah. Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman, maka ada sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya. Prinsip adalah suatu hal yang sifatnya sangat penting dan mendasar, terlahir dari dan menjadi suatu kepercayaan. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum menunjukan pada pengertian tentang berbagai hal yang terkait dengan pengembangan kurikulum terutama dalam fase perencanaan kurikulum.
Esensi dari pengembangan kurikulum adalah proses identifikasi analisis, sintesis, evaluasi, pengambilan keputusan dan kreasi elemen-elemen kurikulum.
Sumber prinsip yaitu dari mana asal muasal terlahirnya suatu prinsip.setidaknya ada empat sumber prinsip pengembangan kurikulum yaitu : data empiris (empirical data), data eksperimen (Exsperimen data), cerita atau legenda yang hidup di masyarakat (folklore of curricuculum), dan akal sehat (common sense) (Oliva, 19992 : 28).
Tpe-tipe prinsip pengembangan kurikulum yaitu validitas dan reliabilitas prinsip yang digunakan.hal ini berkaitan dengan sumber-sumber dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum itu sendiri.Maka prinsip-prinsip pengembangan kurikulum bisa diklasifikasikan menjadi tiga tipe prinsip yaitu anggapan kebenaran utuh atau menyeluruh (Whole truth), anggapan kebenaran parsial (Partial truth), dan anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian ( Hypothesis).
Macam-macam prinsip ini bisa dibedakan dalam dua kategori yaitu prinsip umum dan prinsip khusus.
a.    Prinsip umum
1.        Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2.        Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
3.        Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4.        Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5.        Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
b.   Prinsip Khusus
1.      Prinsip yang berakitan dengan tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada: Ketentuan dan kebijakan pemerintah, survai mengenai persepsi orang tua, masyarakat lainya, survai tentang pandangan para ahli dalam bidang –bidang tertentu, survai tentang manpower, pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama, dan penelitian.
2.      Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan.
Dalam penentuan isi Pendidikan/Kurikulum, harus dipertimbangkan hal-hal berikut : penjabaran tujuan pendidikan baik umum dan khusus, Isi bahan pelajaran, urutan Unit-unit kurikulum harus logis dan sistematis.
3.      Prinsip berkaiatan dengan pemilihan prosese belajar mengajar.
Untuk menentukan kegiatan dalam proses belajar, mengajar apa yang akan digunakan hendakanya memperhatikan hal berikut: kecocokan metode mengajar, variasi mengajar, urutan kegiatan,pencapaian tujuan, keaktifan, perkembangan, jalinan kegiatan belajar disekolah dan dirumah, belajar yang menekan “learning by doing” disamping “learning by seeing and knowing”.
4.      Prinsip yang berkenaan dengan penilihan media dan alat pelajaran.
Dibawah ini beberapa prinsip yang bisa dijadikan pegangan untuk memilih dan menggunakn media atau alat bantu pembelajaran,yaitu : Alat/media, cara pembuatan, orang dan pembiayaan serta waktu pembuatan, pengorganisasian alat dan bahan, penggunaan multi media.
5.      Prinsip yang berkenaan dengan Evaluasi.
Dalam pengembangan kurikulum harus memperhatikan prinsip–prinsip evaluasi yaitu objektifitas, komprehensif, kooferatif, mendidik,, akuntabilitas, dan praktis. Dalam praktiknya ada lima fase dalam pengembangan kurikulum yaitu perencanaan, pengembangan, pengumpulan data, pengolahan data, laporan dan pemanfaatan. Beberapa yang harus diperhatikan dalam prinsip penilan: Norma penilaian , Formula Guessing, mengubah skor mentah kedalam skor masak, Penggunaan skor standar , Penggunaan hasil tes,penyusunan laporan, dan tujuan hasil laporan

Sumber:
Sudrajat, Ahmad. (2008). Prinsip Pengembangan Kurikulum. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/. [27 Februari 2013].
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran.  Jakarta: Rajawali Pers.



KOMPONEN-KOMPONEN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Oleh Ratnasari (1105339) Pendidikan Kimia B
Kurikulum merupakan suatu sitem yang memiliki komponen-komponen tertentu, yaitu terdiri dari 4 komponen yaitu, komponen tujuan, isi kurikulum, metode, dan evaluasi. Sebagai suatu system,setiap komponen harus saling berkaitan satu sama lain. Sehingga apabila ada salah satu komponen terganggu, maka sistem kurikulum juga akan terganggu.
1. Komponen Tujuan
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam sekala macro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau system nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :
1)      Tujuan Pendidikan Nasional adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan.
2)      Tujuan institusional merupan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, misalnya standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan jejnjang pendidikan tinggi.
3)      Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang setudi atau mata pelajaran.
4)      Tujuan Pembelajaran yang merupakn bagian dari tujuan kurikuler,dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan
Menurut Bloom, dalam bukunya yang berjudul Taxonomy of Educational Objectives yang terbit pada tahun 1965, bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat digolongkan kedalam 3 klasifikasi atau 3 domain ( bidang ), diantaranya:
a.    Domain Kognitif
Domain kognitip adalah tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berfikir. Domain kognitif terbagi menjadi 6 tingkatan yaitu: Pengetahuan ( Knowledge ), Pemahaman ( comprehension ), Penerapan ( application ), Analisis, Sintesis, dan Evaluasi
b.   Domain afektif
Domain afektif berkenaan dengan sikap, nilai-nilai, dan apresiasi. Menurut Krathwohl dan kawan-kawan ( 1964 ), dalam bukunya Taxonomi of Educational Objectives : Affective Domain, Domain afektif memiliki tingkatan yaitu : Penerimaan, Merspon, Menghargai, Mengorganisasi, Karakterisasi Nilai
c.    Domain Psikomotor
Domain psikomotor adalah tujuan yang berhubungan dengan kemampuan keterampilan seseorang. Ada tujuh tingkatan diantaranya, Persepsi ( Perception ), Kesiapan ( Set ), Meniru ( Imitation ), Membiasakan ( habitual ), Menyesuaikan ( Adaptation ), danMenciptakan ( Organization )
2. Komponen Isi /Materi Pelajaran
Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau mteri pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
3. Komponen Metode/Strategi
Metode adalah upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode juga digunakan untuk merealisasikan strateg iyang telah ditetapkan. Disini metode berfungsi sebagai cara untuk mengimplimentasikan mata pelajaran yang akan dijelaskan.
4. Komponen Evaluasi
Evaluasi adalah suatu pemeriksaan terhadap pelaksanaan suatu program yang telah dilakukan dan yang akan digunakan untuk meramalkan, memperhitungkan, dan mengendalikan pelaksanaan program ke depannya agar jauh lebih baik. Dengan demikian misi dari evaluasi itu adalah perbaikan atau penyempurnaan di masa mendatang atas suatu program. Jadi evaluasi adalah sebuah alat pengukur atau indicator untuk melihat tingkat keberhasilan suatu program yang dijalankan. Evaluasi sebagai alat untuk mencapai keberhasilan dapat dikelompokan menjadi dua jenis yatu tes dan nontes. Hasil tes biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif atau penguasaan materi. Sedangkan nontes adalah alat evaluasi yang digunakan untuk menilai aspek tingkah laku termasuk sikap, minat dan motivasi. Ada beberapa jenis nontes sebagai alat evaluasi diantaranya wawancara, observasi, studi kasus dan skala penilaian.
Sumber:
Hamalik, Oemar. (2005). Kurikulum dan Pembelajaran. PT Bumi Aksara. Jakarta.
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran.  Jakarta: Rajawali Pers.