LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Oleh
Ratnasari (1105339) Pendidikan Kimia B
Landasan
pengembangan Kurikulum memiliki peranan yang sangat penting, terhadap seluruh
kegiatan pendidikan, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara
sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang
didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Apabila
tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap
kegagalan pendidikan itu sendiri dan akan berkibat pula terhadap kegagalan
proses pengembangan manusia. Dalam hal ini ada empat landasan utama dalam
pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3)
sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi.
1.
Landasan
Filosofis Pengembangan Kurikulum
· Filsafat Pendidikan
Filsafat berupaya
mengkaji berbagai permasalahan yang dihadapai manusia, termasuk masalah
pendidikan. Pendidikan sebagai ilmu terapan, tentu saja memerlukan ilmu-ilmu
lain sebagai penunjang, di antaranya filsafat. Filsafat pendidikan pada
dasarnya adalah penerapan dan pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan
masalah-masalah pendidikan. Menurut Redja Mudyahardjo (1989), terdapat tiga
sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran
pendidikan pada umumnya dan pendidikan di Indonesia pada khususnya, yaitu :
filsafat idealisme, realisme dan filsafat fragmatisme.
· Manfaat Filsafat Pendidikan
Filsafat
pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat
untuk memecahkan permasalahn pendidikan. Dengan demikian tentu saja bahwa
filsafat memiliki manfaat dan memberikan kontribusi yang besar terutama dalam
memberikan kajian sistematis berkenaan dengan kepentingan pendidikan. Menurut
Nasution (1982) mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat pendidikan, yaitu:
1) Filsafat pendidikan
dapat menentukan arah akan dibawa ke mana anak-anak melalui pendidikan di
sekolah? Sekolah adalah suatu lembaga yang didirikan untuk mendidik anak-anak
ke arah yang dicita-citakan oleh masyarakat, bangsa dan negara.
2) Dengan adanya tujuan
pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut, kita mendapat hambaran yang
jelas tentang hasil yang harus dicapai.
3) Filsafat dan tujuan
pendidikan memberi kesatuan yang bulat kepada segala usaha pendidikan.
4) Tujuan pendidikan
memungkinkan si penduduk menilai usahanya, hingga manakah tujuan itu tercapai.
5) Tujuan pendidikan
memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-lkegiatan pendidikan.
· Filsafat dan Tujuan Pendidikan
Filsafat
akan menentukan arah kemana peserta didik akan dibawa, filsafat merupakan
perangkat nilai-nilai yang melandasi dan membimbing ke arah pencapaian tujuan
pendidikan. Oleh karena itu, filsafat yang dianut oleh suatu bangsa atau
kelompok masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh perorangan akan
sangat mempengaruhi terhadap tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
Tujuan
pendidikan nasional di Indonesia tentu saja bersumber pada pandangan dan cara
hidup manusia Indonesia, yakni Pancasila. Hal ini berarti bahwa pendidikan di
Indonesia harus membawa peserta didik agar menjadi manusia yang berPancasila.
Dengan kata lain, landasan dan arah yang ingin diwujudkan oleh pendidikan di
Indonesia adalah yang sesuai dengan kandungan falsafah Pancasila itu sendiri.
· Kurikulum dan Filsafat Pendidikan
Kurikulum pada hakikatnya adalah
alat untuk mencapai tujuan pendidikan, karena tujuan pendidikan sangat
dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa, maka tentu saja
kurikulum yang dikembangkan juga akan mencerminkan falsafah/pandangan hidup
yang dianut oleh bangsa tersebut oleh karena itu terdapat hubungan yang sangat
erat antara kurikulum pendidikan di suatu negara dengan filsafat negara yang
dianutnya. Sebagai contoh, Indonesia pada masa penjajahan Belanda, kurikulum
yang dianut pada masa itu sangat berorientasi pada kepentingan politik Belanda.
Demikian pula pada saat negara kita dijajah Jepang, maka orientasi kurikulum
berpindah yaitu disesuaikan dengan kepentingan dan sistem nilai yang dianut
oleh negara Matahari Terbit itu. Setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, dan
secara bulat dan utuh menggunakan pancasila sebagai dasar dan falsafah dalam
berbangsa dan bernegara, maka kurikulum pendidikan pun disesuaikan dengan
nilai-nilai pancasila itu sendiri.
2.
Landasan Psikologis Pengembangan Kurikulum
· Perkembangan Peserta Didik dan Kurikulum
Anak sejak
dilahirkan sudah memperlihatkan keunikan-keunikan, seperti pernyataan dirinya
dalam bentuk tangisan atau gerakan-gerakan tertentu. Hal ini memberikan
gambaran bahwa sebenarnya sejak lahir anak telah memiliki potensi untuk
berkembang. Pandangan tentang anak sebagai makhluk yang unik sangat berpengaruh
terhadap pengembangan kurikulum pendidikan. Setiap anak merupakan pribadi
tersendiri, memiliki perbedaan disamping persamaannya. Implikasi dari hal
tersebut terhadap pengembangan kurikulum yaitu :
1) Setiap anak diberi
kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhannya.
2) Di samping disediakan
pelajaran yang sifatnya umum (program inti) yang wajib dipelajari setiap anak
di sekolah, disediakan pula pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat anak.
3) Kurikulum disamping
menyediakan bahan ajar yang bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang
bersifat akademik. Bagi anak yang berbakat di bidang akademik diberi kesempatan
untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya.
4) Kurikulum memuat
tujuan-tujuan yang mengandung pengetahuan, nilai/sikap, dan keterampilan yang
menggambarkan keseluruhan pribadi yang utuh lahir dan batin.
Implikasi
lain dari pengetahuan tentang anak terhadap proses pembelajaran (actual curriculum) dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Tujuan pembelajaran
yang dirumuskan secara operasional selalu berpusat kepada perubahan tingkah
laku peserta didik.
2) Bahan/materi yang
diberikan harus sesuai dengan kebutuhan, minat dan perhatian anak, bahan
tersebut mudah diterima oleh anak.
3) Strategi belajar
mengajar yang digunakan harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
4) Media yang dipakai
senantiasa dapat menarik perhatian dan minat anak.
5) Sistem evaluasi
berpadu dalam satu kesatuan yang menyekuruh dan berkesinambungan dari satu
tahap ke tahap yang lainnya dan dijalankan secara terus menerus.
· Psikologi Belajar dan Kurikulum
Psikologi belajar merupakan suatu
cabang bagaimana individu belajar. Belajar bisa diartikan sebagai perubahan
perilaku yang terjadi melalui pengalaman. Segala perubahan perilaku baik yang
berbentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor dan terjadi karena prosespengalaman
dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar. Perubahan-perubahan perilaku yang
terjadi secara insting atau terjadi karena kematangan, atau perilaku yang
terjadi secara kebetulan, tidak termasuk belajar. Mengetahui tentang
psikologi/teori belajar merupakan bekal bagi para guru dalam tugas pokoknya
yaitu pembelajaran anak. Ada tiga jenis teori belajar yang mempunyai pengaruh
besar dalam pengembangan kurikulum, yatu teori belajar kognitif, behavioristik,
dan humanistik.
3.
Landasan Sosiologis Pengembangan Kurikulum
Landasan
sosiologis menyangkut kekuatan-kekuatan sosial di masyarakat. Kekuatan-kekuatan
itu berkembang dan selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Kekuatan itu dapat berupa kekuatan yang nyata maupun yang potensial, yang
berpengaruh dalam perkembangan kebudayaan seirama dengan dinamika masyarakat.
· Masyarakat dan Kurikulum
Mayarakat
adalah suatu kelompok individu yang diorganisasikan mereka sendiri ke dalam
kelompok-kelompok berbeda. Kebudayaan hendaknya dibedakan dengan istilah
masyarakat yang mempunyai arti suatu kelompok individu yang terorganisir yang
berpikir tentang dirinya sebagai suatu yang berbeda dengan kelompok atau
masyarakat lainnya. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri, dengan
demikian yang membedakan masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya adalah
kebudayaan. Hal ini mempunyai implikasi bahwa apa yang menjadi keyakinan
pemikiran seseorang, reaksi terhadap perangsang sangat tergantung kepada
kebudayaan di mana ia dibesarkan..
Pengembangan
kurikulum juga harus ditekankan pada pengembangan individu yang mencakup
keterkaitannya dengan lingkungan sosial setempat. Lingkungan sosial budaya
merupakan sumber daya yang mencakup kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan masyarakat menuntut tersedianya proses pendidikan yang relevan.
Untuk terciptanya proses pendidikan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat
maka diperlukan rancangan berupa kurikulum yang landasan pengembangannya
memperhatikan faktor perkembangan masyarakat.
· Kebudayaan dan Kurikulum
Faktor kebudayaan merupakan bagian
yang penting dalam pengembangan kurikulum dengan pertimbangan :
1) Individu lahir tak
berbudaya, baik dalam hal kebiasaan, cita-cita, sikap, pengetahuan,
keterampilan, dan lain sebagainya.
2) Kurikulum dalam suatu
masyarakat pada dasarnya merupakan refleksi dari cara orang berpikir, berasa,
bercita-cita, atau kebiasaan-kebiasaan.
3) Seluruh nilai yang
telah disepakati masyarakat dapat pula disebut kebudayaan. Kebudayaan adalah
hasil dari cipta, rasa, karsa manusia yang diwujudkan dalam tiga gejala, yaitu:
1. Ide, konsep,
gagasan, nilai, norma, peraturan, dan lain-lain.
2. Kegiatan,
yaitu tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat.
3. Benda hasil
karya manusia.
4.
Landasan Teknologis Pengembangan Kurikulum
Ilmu Pengetahuan adalah seperangkat pengetahuan yang
disusun secara sistematis yang dihasilkan melalui riset atau penelitian. Sedangkan
Teknologi adalah aplikasi dari ilmu pengetahuan untuk memecahkan
masalah-masalah praktis dalam kehidupan. Kegiatan pendidikan membutuhkan
dukungan dari penggunaan alat-alat hasil industri seperti televisi, radio,
video, komputer, dan peralatan lainnya. Alat-alat tersebut dibutuhkan untuk
menunjang pelaksanaan program pendidikan, mengingat pendidikan merupakan upaya
menyiapkan siswa menghadapi masa depan dan perubahan masyarakat yang semakin
pesat termasuk didalamnya perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka
pengembangan kurikulum harus berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara
langsung berimplikasi terhadap pengembangan kurikulum yang didalamnya mencakup
pengembangan isi/materi pendidikan, penggunaan strategi dan media pembelajaran,
serta penggunaan sistem evaluasi. Selain itu perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dimanfaatkan untuk memecahkan masalah.
Sumber:
Sudrajat, Ahmad. (2008). Landasan Pengembangan Kurikulum. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/.
[13 Februari 2013].
Syaodih
Sukmadinata, Nana. (1997). Pengembangan Kurikum; Teori dan
Praktek. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar